Tampilkan postingan dengan label religion. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label religion. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Desember 2011

PERGESERAN DUNIA DAKWAH


Oleh: Arsyad Abrar
Juru dakwah, penceramah atau da’i dalam bahasa syar’i  merupakan figur sentral yang sangat penting lagi dibutuhkan dalam menjaga stabilitas ajaran-ajaran dan norma agama. Bukan sekedar menyadari pentingnya melakukan penyegaran rohani untuk umat, kegiatan berdakwah adalah kewajiban bagi tiap pribadi muslim. Kegiatan dakwah merupakan interpretasi terhadap teks-teks suci yang direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Sasaran dari dakwah ini sudah barang tentu adalah kita umat Islam yang berperan sebagai audiens, sedangkan menjadi seorang da’i atau pendakwah adalah suatu keharusan sebagai warisan luhur agama terhadap setiap pribadi.
            Bila kita terjemahkan secara harfiah, maka berdakwah memilki artian yang luas. Mengingat bahwa inti dari dakwah adalah mengajak, mengingatkan bahkan termasuk di dalamnya mengarahkan orang untuk selalu konsisten dalam melakukan kebaikan, maka berdakwah dapat kita lakukan dimana saja, tidak terikat waktunya dan dengan siapa pun kita boleh melakukan hal tersebut selama dalam batasan-batasan yang wajar. Serulah oleh mu (mereka itu) ke jalan Tuhanmu dengan bijaksana dan lemah lembut. Meskipun demikian, untuk berdakwah kita terlebih dahulu haruslah dibekali dengan ilmu agama yang memadai. Tidak hanya itu, pandai membaca situasi dan kondisi mereka yang akan kita jadikan objek dakwah merupakan salah satu kunci keberhasilan dari apa yang akan kita sampaikan.
            Seorang da’i atau penceramah bukan sekedar orator yang ulung, haruslah bisa menjadi sosok panutan, suri teladan dalam kalangan masyarakat, dan yang jauh lebih penting adalah mampu menjaga nilai-nilai agama hingga tidak tercampuri dengan urusan-urusan  yang lebih condong bersifat duniawi.
            Belakangan ini satu hal yang menarik perhatian saya terkait dengan masalah berdakwah adalah maraknya ajang pencarian bakat para da’i, mulai dari tingkat anak-anak sampai ke tingkat dewasa. Tidak tanggung-tanggung ajang ini hampir diikuti oleh sebagian besar tunas bangsa Indonesia yang terbentang dari sabang sampai merauke. Mereka berbondong-bondong mengikuti audisi, saling unjuk kemampuan dan prestasi demi mendapat tiket sebagai kandidat da’i terpilih untuk terbang ke ibu kota. Konsep yang sama juga digunakan dalam penyaringan penyayi top dalam satu kompetisi.
            Salahkah hal seperti itu? Salah atau tidak dari apa yang sedang marak itu tergantung sejauh mana penilian kita masyarakat pada umumnya, dan dengan pandangan apa kita menanggapinya.
            Mungkin sebagian dari kita adalah golongan yang menikmati begitu asik dengan kekaguman melihat anak-anak yang pada usia belianya telah mampu berbicara tentang ajaran-ajaran luhur agama. Lain dari itu mereka juga pandai melantunkan ayat-ayat Alquran dengan fasih disertai pula dengan irama yang mendukung, enak untuk didengar. Atau sebagian dari kita adalah golongan yang menanggapi hal tersebut sebagai hal yang biasa-biasa saja, menanggapi bahwa hal tersebut cukuplah sebagai sekedar hiburan belaka. Maka saya dalam hal ini berada dalam golongan yang ketiga, yaitu mencoba mengkritisi ajang tersebut sejalan dengan pisau analisis yang saya gunakan. Karena bagi saya masalah ini bukan sekedar ajang pencarian bakat semata, ini sangat erat kaitannya dengan perkembangan dan produktifitas Islam pada masa yang akan datang.  
            Dalam hal ini saya sedikit membuat beberapa catatan kecil. Pertama, kegiatan pencarian bakat calon da’i ini sarat dengan hal yang mengarah ke materi, penuh komersial alias mencari untung. (bagi pihak penyelanggara). Bisa kita lihat bahwa mereka yang sampai ke ibu kota akan diadu satu sama lain untuk menunjukan kemampuan mereka, sejauh mana penguasaan materi yang telah diajarkan oleh para pelatih, kemudian hal tersebut mereka tunjukan dipanggung perlombaan dengan ditonton oleh banyak orang, termasuklah kita yang menyaksikan melalui layar kaca. Diakhir pertunjukan, calon da’i meminta dukungan agar ia keluar sebagai pemenang dengan cara meminta kirim SMS sebagaiamana aturan yang berlaku.
Cukup unik, namun sangatlah tidak lucu bila dakwah yang merupakan bagian dari lahan agama turut dikomersilkan. Hal seperti itu sama sekali tidaklah menguntungkan, baik untuk si peserta maupun yang menonton, bila ditinjau dari sudut agama. Mengapa demikian,  secara tidak langsung para peserta tersebut telah diajarkan, diasuh untuk siap bertanding, bukan lagi untuk menjunjung tinggi syiar-syiar agama sebagaimana ruh dari berdakwah tersebut. Bagi penonton adalah hal yang mubazir untuk menyaksikan tersebut, terkecuali bagi para produser atau sutradara yang ingin menggaet si anak berbakat untuk dijadikan artis dadakan, terlebih lagi film-film atau sinetron religi yang laku keras menjelang dan sesudah Ramadhan.
            Kedua, ajang penacarian da’i berbakat tersebut juga merupakan moment untuk berjualan, berjualan pakaian muslim. Yang mana akhir-akhir ini trend berpakaian muslim sedang berada pada jalur laris manis. Setiap peserta memakai aneka pakaian yang beragam dan memilki style baru, lain dari yang  lain. Akhirnya nilai-nilai dakwa yang  utama pada awalnya kini menjadi tontonan belaka.
            Ketiga, ajang yang sama akan melahirkan para da’i yang terikat dengan kontrak-kontrak tertentu. Mereka yang keluar sebagai pemenang, nantinya sudah bisa dipastikan sebagai icon da’i yang layak jadi panutan dan direkrut dengan pihak-pihak tertentu. Dan yang saya khawatirkan adalah para dai terpilih tersebut nantinya akan alih status. Yang mana pada awal mulanya kegiatan dakwah merupakan siraman rohani untuk menghidupkan nilai-nilai Islam, menjaga stabilitas keimanan, diujung jalan akan berubah menjadi tontonan yang bersifat hiburan.
Hal tersebut sudah jelas terlihat saat ini, bisa kita saksikan, ketika ada dua pengajian pada hari yang sama. Ceramah yang satu dihadiri oleh ustaz kondang namun jarang nampil di TV dan ceramah yang satunya lagi adalah diisi ustaz kondang yang rajin mangkal di TV, maka para jema’ah akan berbondong untuk menghadiri ceramah agama yang akan disampaikan oleh ustaz TV, alasannya sederhana, pengen lihat ustaz yang rajin di TV, atau berharap moga-moga masuk TV. Inti dari mendengarkan kajian agama pun dilupakan. Lama-kelamaan, ruh dakwah bukan lagi untuk saling mentausiah, saling member ilmu, tapi hanya sekedar bahan hiburan semata.
Kekhawatiran saya yang paing besar berkaitan dengan perkembangan dai-dai muda saat ini adalah ketika mereka direkrut dan dibesarkan oleh si empunya kepentingan. Kenapa? Bisa jadi mereka dijadikan alat untuk melaksanakan pogram-progarn si yang punya hajat, terlebih lagi ketika si da’i udah terlanjur masyhur di hati ummat. Yang dimaksud adalah politisasi para da’i.
Beberapa waktu lalu kita telah ditinggalkan oleh  sosok da’i fenomenal di negeri ini, KH. Zainuddin MZ. Beliau adalah potret juru dakwah yang sangat ulung dan dicintai orang banyak. Ceramah-ceramahnya sangat banyak memberi semangat dan pengaruh yang besar dalam perkembangan Islam Indonesia. Sosoknya yang kritis dan berani menjadi karakter tersendiri yang layak untuk dipuji. Namun itu dahulu ketika beliau terlepas dari ikatan dengan apa pun yang mempunyai kepentingan. Sosoknya begitu mencuat dan menjadi sosok inspiratif hingga menjadi da’i sejuta umat. Namun ketika beliau mulai merambah wilayah yang diluar kadarnya-untuk berpolitik- karismatik sebagai da’i untuk umat itu kian memudar, karena orientasi si da’i tidak lagi untuk umat melainkan milik umat-umat tertentu. Menjelang akhir hayat beliau citra sang da’i kian mengharum, karena konsisten menjadi dan mengabdikan diri untuk umat, bukan milik umat.
Lain dengan almarhum Zainuddin MZ, Abdullah Gymnastiar atau yang lebih akrab dengan panggilan AA Gym sosok da’i yang banyak dibicarakan beberapa tahun terakhir. Sempat mengalami masah-masah sulit. Pada awal kesuksesannya, dengan mengusung tema manajemen qalbu, pesan-pesan dan ajaran sang AA sangat diminati oleh masyarakat, karena sesuai dengan kondisi rakyat yang kritis dari kepekaan sosial bersama. Tema sabar, tawadhu’, ikhlas dan lain sebagainya merupakan bagian dari ajaran AA Gym yang enak untuk didengar. Sehingga ceramah-ceramah beliau dapat dengan mudah kita saksikan dilayar televise. Seketika sosok AA Gym menjadi panutan semua kalangan, umat pun tak mau kalah, mereka merasa si da’i adalah milki mereka sepanjang masa.
Namun itu semua terasa tidak bertahan begitu lama, ketika terdengar si da’i menikah lagi spontan pamornya menurun. Padahal apa yang dilakukan oleh beliau adalah hal yang wajar dan dibenarkan oleh agama. Bahkan tak jarang beliau banyak mendapat hujatan ketika itu. Menanggapi kasus AA Gym ini, satu kesimpulan yang dapat saya pahami adalah kebanyakan dari kita-umat Islam Indonesia-memahami dakwah atau ajaran kebaikan itu berdasarkan orang yang menyampaikan, bukan dari isinya. Sampai-sampai kehidupan pribadi sang da’i berpengaruh pada aktivitas dakwah yang luhur. Tidak lain tidak bukan salah satu dari penyebab yang ada adalah sosok sang  da’i yang terlalu digadang-gadangkan bak artis terkenal. Namanya selebritis tentu ada fans dan penyakiit fans akan meninggalkan idolanya ketika sudah tidak lagi seperti yang diharapkan. Kegiatan dakwah akhirnya yang menjadi tumbal.
Dua dilema diatas merupakan potret bahwa masih minimnya  pemahaman agama dalam masyarakat luas. Itu semua karena tidak ada keseriusan dari pihak-pihak yang berwenang untuk lebih serius mengkader da’i-da’i yang layak menjadi panutan dan sangat paham dengan ajaran agama. Saya tidak bisa membayangkan bila sepuluh tahun akan datang akan lahir banyak da’i yang jago akting, pandai menyanyi, namun isi kepala dan tingkah lakunya tidak layak disebut sebagai orang yang diamanahkan menjaga stablitas nilai-nilai agama. Lama-lama akan banyak terjadi pengaburan dalam ajaran agama, yang dalam bahsa agama dikenal dengan istilah syubhat. Wallahu a’lam. 

Jumat, 02 Desember 2011

Membaca Bencana

Oleh: Arsyad Abrar
Gejala-gejala alam seperti gempa bumi, banjir, dan tsunami adalah diartikan sebagian besar oleh kita sebagai petaka. Musibah atau petaka diibaratkan sebagai tamu yang kehadirannya sama sekali tidak pernah diharapkan. Dinamakan petaka karena peristiwa ini menelan banyak korban jiwa, bahkan merusak segala infrastruktur yang ada.
            Dalam alquran kita temukan banyak ayat yang membicarakan fenomena alam seperti diatas, diantaranya ayat-ayat yang bercerita perihal hari kiamat. Seperti firman Allah dalam QS al-Zalzalah (99) : 1-2, “Apabila bumi itu diguncang dengan guncangan yang dahsyat, dan bumi juga pada waktu itu mengeluarkan segala apa yang ada didalamnya.” Ayat tersebut secara umum menceritakan ada dan betapa dahsyatnya gempa bumi yang terjadi di penguhujung hari akhir nanti, disamping juga mengabarkan kepada kita bahwa gempa itu terjadi adalah dengan kuasanya.
            Bencana yang tidak kalah dahsyatnya selain gempa bumi adalah tsunami. Dalam alquran telah diceritakan, bahwa petaka ini telah menimpa kaum nabi Nuh as dengan bentuk banjir air bah yang sangat besar. Hal itu terjadi tatkala umatnya telah berprilaku melampaui batas dan tidak mau mengikuti apa yang telah Allah ajarkan melalui nabi-Nya.
Tidak hanya umat nabi Nuh saja yang mendapat azab dari Allah SWT akibat dari ketidakmauan mereka mengikuti tnutunan ilahi. Dalam alquran kita juga menemukan kisah-kisah memilkukan dari umat-umat yang membangkang, diantaranya kaum Tsamud, kaum ‘Ad, semua azab itu terjadi karena kezaliman dan pegingkaran mereka terhadap ajaran Allah SWT.
Bila kita kembalikan kepada kehidupan kita sekarang ini, petaka atau musibah yang terjadi seringkali membuat kita takut, menimbulkan kegelisahan yang berlebihan bahkan melahirkan suatu penyakit yang membuat kita lupa bahwa itu semua terjadi karena izin dan kehendak Allah SWT. Musibah, apapun bentuknya itu adalah ujian bagi orang-orang beriman yang datang dari Allah. Sejauh mana seorang hamba mampu bersabar hidup pasca terjadinya bencana, dalam kekurangan bahkan kehilangan harta benda dan keluarga yang dicintai. Allah SWT berfirman dalam QS al-Baqarah (2) : 155, “Sungguh kami (Allah) akan benar-benar menguji kamu dengan sesuatu yang berupa ketakutan dan kelaparan dan kekeruangan dari harta benda, kehilangan jiwa (orang yang kamu sayang) dan buah-buahan dan kabar gembiralah bagi orang-orang yang sabar.”
Namun, musibah ini tentunya berbeda bagi orang-orang yang ingkar dan kerap melakukan maksiat kepada Allah.  Musibah bagi mereka adalah teguran sekaligus azab sebagai wujud kezaliman yang telah mereka lakukan. Dan karena kefasikan itulah Allah mengazab mereka. Hal ini dipertegas oleh firman Allah SWT dalam QS al-Isra (17) : 16 , ”Dan jika kami hendak membinasakan suatu negeri, maka kami perintahkan kepada orang yang hidup mewah di negeri itu (agar mentaati Allah), tetapi bila merajalela dan melakukan kedurhakaan (dinegeri itu), maka berlakulah perkataan (hukuman) kami, kemudian kami benar-benar binasakan negeri itu.”
Cepat tanggap dalam menghadapi berbagai macam persolan kehidupan adalah penting, apalgi jika itu berkaitan dengan musibah, bencana yang menelan banyak koraban. Pada saat itu lah nurani kita sebagai menusia dipanggil untuk berbagi dan ikut merasakan penderitaan saudara kita yang sedang dalam kesulitan. Tidak sekedar menonton pilunya tangisan mereka, tetapi kita mesti mampu membaca pesan yang tersirat dibalik bencana. Membaca bencana bagi rakyat adalah kesiapan untuk saling berbagi mengurangi penderitaan yang ada, begitu juga membaca bencana oleh para pemuka agama adalah menyejukan menghibur mereka yang larut dalam kesedihan, sedangkan membaca bencana bagi seorang pemimpin adalah sejauh mana ia mampu membangun dan menyediakan tempat yang layak bagi para korban, mencegah terjadinya banyak korban dengan evakuasi sedini mungkin. Wallahu A’lam.

ebook agama

Jumat, 25 November 2011

Kejar Kerja Halal

Oleh: Arsyad Abrar
Bekerja untuk memenuhi segala kebutuhan dalam kehdupan ini adalah sebuah keharusan. Tetapi, itu tidak berarti membuat kita melakukan segala cara, termasuk melakukan pekerjaan yang diharamkan. Karena segala sesuatu yang datang dari hal yang haram maka itu diharamkan.
Al-kisah, Lukman Hakim, sosok yang diabadikan al-Quran ini suatu hari memberikan nasihat kepada anaknya sebagai berikut, “wahai anakku, cukupilah kebutuhanmu dengan pekerjaan yang halal. Sebab, mana kala seseorang membutuhkan sesuatu, lazimnya ia akan mengalami tiga hal: yaitu, lemah akal, kedua, memperbudak agama, dan ketiga, lenyapnya harga diri dan ini adalah yang terbesar diantara ketiganya.

            Cuplikan nasihat diatas menggambarkan betapa pentingnya bekerja dengan pekerjaan yang halal. Pekerjaan yang halal akan membawa kebaikan dan berkah. Sedangkan pekerjaan yang haram akan mendatangkan musibah dan malapetaka. Orang yang telah gelap mata akan berbuat sesuka hatinya, sehingga membuatnya terpedaya dan tak mengenal lagi mana yang halal dan mana yang haram sehingga lenyaplahlah harga dirinya.
            Allah SWT berfirman dalam QS al-Baqarah (2): 172, “hai  orang-orang yang beriman makanlah oleh kamu hal-hal yang baik( apakah itu zatnya atau cara mendapatkannya) dari apa yang telah kami beri rezeki kepada kamu, dan bersyukurlah kepada allah jika kamu memang benar-benar menyembah kepadanya.”
            Ayat tersebut diatas memerintahkan kepada orang-orang yang beriman agar senantiasa memperoleh makanan yang baik dari apa yang telah mereka usahakan dan selalu bersyukur kepada Allah. Makanan yang baik didalam ayat tersebut mengindiaksikan dua hal. Yang pertama, makanan tersebut secara kesehatan tidak mengndung unsur-unsur yang dapat merusak kehidupan dan yang kedua, makanan tersebut diperoleh dengan cara yang baik pula.
Suatu pekerjaan pada dasarnya adalah halal, namun bila terkontaminasi oleh beberapa hal yang dilarang, maka pekerjaan tersebut sejurus bisa berubah menjadi haram. Contoh saja, dalam hal ibadah, melaksanakan shalat yang pada awalnya merupakan kewajiban, akan berubah menjadi dosa manakala dibarengi dengan sikap ujub dan riya. Begitu juga dengan pekerjaan sehari-hari yang kita lakukan, manakala hal tersebut dibumbui dengan perbuatan kotor maka akan menjadi haram. Hal seperti ini, banyak kita temukan di instansi-instansi yang melakukan praktek suap menyuap atau perilaku curang yang diakukan pedagang terhadap barang dagangannya. Itu hanya sebagian contoh kecil saja.
Islam selalu mengarahkan kita untuk senantiasa melakukan pekerjaan yang halal. Karena  bekerja itu merupakan sunnah Rasulullah. Bahkan ia adalah kewajiban yang telah Allah tetapkan pada setiap hambanya.
Hal ini diperkuat oleh firman-Nya dalam QS al-Jumu’ah (62): 10, “ Maka apabila kamu telah selesai melaksanakan Shalat maka bertebaranlah dimuka bumi untuk mencari dari rahmat Allah, dan senantiasalah untuk selalu mengingat Allah sebanyak-banyaknya, kamu pasti akan beruntung.” Adapun maksud dari bertebaran untuk mencari rahmat Allah adalah berupaya, bekerja dengan cara yang halal dan di ridhoinya.
Konsekuensi dari tekunnya bekerja adalah menghasilkan harta. Harta itulah yang digunakan untuk memenuhi kebutuha manusia, mulai dari sandang, pakiaan, tempat tinggal dan berbagai kebutuhan lainnya agar bisa terus hidup untuk beribadah kepada Allah. Disisi lain, kita masih juga melihat banyak orang yang terlalu berlebihan dalam meraup kekayaan, sampai-sampai ia melakukan pekerjaan yang secara agama itu dilarang. Diantaranya, bentuk pekerjaan yang ia lakukan secara tidak langsung telah merugikan rakyat banyak, terlebih lagi bila itu dilakukan oleh para pemimpin rakyat, sungguh ironis.
Dalam suasana yang labil ini, kaya dalam waktu sekejap merupakan mimpi semua orang. Namun janganlah hal tersebut dilakukan dengan cara-cara kotor dan merusak moral bangsa, karena setiap apa yang kita perbuat akan dimintai pertanggung jawabannya. Berkata rasulullah SAW:  Seseorang itu lebih mulia bila makan dari hasil jerih payahnya sendiri, dan sesungguhnya Nabi Daud AS mencari rezeki dengan jerih payahnya sendiri pula.(dirrwayatkan oleh Bukhari, Abu Daud dan an-Anasai)

publish : republika (24 februari 2011)
original writer

Selasa, 11 Januari 2011

PENDIDIKAN SEKS ANAK DALAM ISLAM


Perdebatan tentang perlu-tidaknya pendidikan seks diberikan kepada anak bermula dari keprihatinan terhadap pergaulan remaja saat ini. Para pemerhati masalah remaja berpendapat, seks bebas yang sekarang ini menggejala salah satunya disebabkan kerana pengetahuan remaja jahil tentang seks.
Ada banyak pengertian tentang apa itu pendidikan seks, bergantung pada sudut pandang yang dipakai. Menurut Dr. Abdullah Nashih Ulwan, pendidikan seks adalah upaya pengajaran, penyedaran, dan penerangan tentang masalah-masalah seksual yang diberikan kepada anak sejak ia mengerti masalah-masalah yang berkenaan dengan seks, naluri, dan perkahwinan. Dengan begitu, jika anak telah dewasa, ia akan dapat mengetahui masalah-masalah yang diharamkan dan dihalalkan; bahkan mampu menerapkan perilaku islami dan tidak akan memenuhi naluri seksualnya dengan cara-cara yang tidak islami.

Pendidikan seks di dalam Islam merupakan sebahagian daripada pendidikan akidah, akhlak, dan ibadah. Terlepasnya pendidikan seks dengan ketiga unsur itu akan menyebabkan ketidakjelasan arah dari pendidikan seks itu sendiri, bahkan mungkin akan menimbulkan kesesatan dan penyimpangan dari tujuan asal manusia melakukan kegiatan seksual dalam rangka pengabdian kepada Allah. Oleh kerana itu, pelaksanaan pendidikan seks tidak boleh menyimpang dari tuntutan syariat Islam.

Siapa yang Bertanggung Jawab?
Ibu-bapak adalah pihak yang paling bertanggung jawab terhadap anak dalam masalah pendidikan, termasuk pendidikan seks. Jadi, dalam hal ini, sesungguhnya tidak semestinya diperlukan adanya kurikulum khusus tentang pendidikan seks di sekolah-sekolah.

Pokok-Pokok Pendidikan Seks Perspektif Islam
Di antara pokok-pokok pendidikan seks yang bersifat praktis, yang perlu diterapkan dan diajarkan kepada anak adalah:

1. Menanamkan rasa malu pada anak.
Rasa malu harus ditanamkan kepada anak sejak awal lagi. Jangan biasakan anak-anak, walau masih kecil, bertelanjang di depan orang lain; misalnya ketika keluar bilik mandi, salin pakaian, dan sebagainya. Membiasakan anak perempuan sejak kecil berbusana Muslimah menutup aurat juga penting untuk menanamkan rasa malu sekaligus mengajari anak tentang auratnya.

2. Menanamkan jiwa kelelakian pada anak lelaki dan jiwa keperempuan pada anak perempuan.
Secara fisikal maupun psikologi, lelaki dan perempuan mempunyai perbedaan yang diciptakan oleh Allah. Adanya perbedaan ini bukan untuk saling merendahkan, namun semata-mata karena fungsi yang berbeda yang kelak akan dimainkannya. Islam menghendaki agar lelaki memiliki keperibadian maskulin, dan perempuan memiliki keperibadian feminin. Islam tidak menghendaki wanita menyerupai lelaki, begitu juga sebaliknya. Untuk itu, harus dibiasakan dari kecil anak-anak berpakaian sesuai dengan jenisnya. Mereka juga harus dilayani sesuai dengan jenisnya. Ibnu Abbas ra. berkata:
Rasulullah saw. melaknat laki-laki yang berlagak wanita dan wanita yang berlagak meniru laki-laki.(HRal-Bukhari).

3. Memisahkan tempat tidur mereka.

Usia antara 7-10 tahun merupakan usia saat anak mengalami perkembangan yang pesat. Anak mulai melakukan eksplorasi ke dunia luar. Anak tidak hanya berfikir tentang dirinya, tetapi juga mengenai sesuatu yang ada di luar dirinya. Pemisahan tempat tidur merupakan cara untuk menanamkan kesedaran pada anak tentang kewujudan dirinya sebagai entiti yang berlainan dan disamping melatihnya berdikasi. Pemisahan tempat tidur juga dilakukan terhadap anak dengan kakak atau adik perempuannya, supaya dia menyedari tentang kewujudan perbedaan jenisnya.

4. Mengenalkan waktu berkunjung (meminta izin dalam 3 waktu).
Tiga ketentuan waktu yang tidak diperbolehkan anak-anak untuk memasuki ruangan (kamar) orang dewasa kecuali meminta izin terlebih dulu adalah: sebelum solat subuh, tengah hari, dan setelah solat isya. Aturan ini ditetapkan mengingat di antara ketiga waktu tersebut merupakan waktu aurat, yakni waktu ketika badan atau aurat orang dewasa banyak terbuka (Lihat: QS al-Ahzab [33]: 13). Jika pendidikan semacam ini ditanamkan pada anak maka ia akan menjadi anak yang memiliki rasa sopan-santun dan etika yang luhur.

5. Mendidik menjaga kebersihan alat kelamin.
Mengajari anak untuk menjaga kebersihan alat kelamin selain agar bersih dan sihat sekaligus juga mengajari anak tentang najis. Anak juga harus dibiasakan untuk buang air pada tempatnya (toilet training). Dengan cara ini akan terbentuk pada diri anak sikap hati-hati, mandiri, mencintai kebersihan, mampu menguasai diri, disiplin, dan sikap moral yang memperhatikan tentang etika sopan santun dalam melakukan hajat.

6. Mengenalkan mahramnya.
Tidak semua perempuan berhak dinikahi oleh seorang laki-laki. Siapa saja perempuan yang diharamkan dan yang dihalalkan telah ditentukan oleh syariat Islam. Ketentuan ini harus diberikan pada anak agar ditaati. Didik anak agar menjaga pergaulan sehariannya dengan selain wanita yang bukan mahramnya. Inilah salah satu bahagian terpenting dikenalkannya kedudukan orang-orang yang haram dinikahi dalam pendidikan seks anak. Dengan demikian dapat diketahui dengan tegas bahwa Islam mengharamkan sumbang mahram. Allah Swt telah menjelaskan tentang siapa mahram dalam surat an-Nisa’ (4) ayat 22-23.

7. Mendidik anak agar selalu menjaga pandangan mata.
Telah menjadi fitrah bagi setiap manusia untuk tertarik dengan lawan jenisnya. Namun, jika fitrah tersebut dibiarkan bebas lepas tanpa kendali, justru hanya akan merusak kehidupan manusia itu sendiri. Begitu pula dengan mata yang dibiarkan melihat gambar-gambar atau filem yang mengandung unsur pornografi. Karena itu, jauhkan anak-anak dari gambar, filem, atau bacaan yang mengandung unsur pornografi dan pornoaksi.

8. Mendidik anak agar tidak melakukan ikhtilât.

Ikhtilât adalah bercampur-baurnya laki-laki dan perempuan bukan mahram tanpa adanya keperluan yang dibolehkan oleh syariat Islam. Perbuatan semacam ini pada masa sekarang sudah dianggap biasa. Mereka bebas berpandangan, saling berdekatan dan bersentuhan; seolah tidak ada lagi batas yang ditentukan syariah yang mengatur interaksi di antara mereka. Ikhtilât dilarang karena interaksi semacam ini boleh menjadi penyebab kepada perbuatan zina yang diharamkan Islam. Kerana itu, jangan biasakan anak diajak ke tempat-tempat yang di dalamnya terjadi percampuran laki-laki dan perempuan secara bebas.

9. Mendidik anak agar tidak melakukan khalwat.
Dinamakan khalwat jika seorang laki-laki dan wanita bukan mahram-nya berada di suatu tempat, hanya berdua saja. Biasanya mereka memilih tempat yang tersembunyi, yang tidak boleh dilihat oleh orang lain. Sebagaimana ikhtilât, khalwat pun merupakan perantara bagi terjadinya perbuatan zina. Anak-anak sejak kecil harus diajari untuk menghindari perbuatan semacam ini. jika bermain, bermainlah dengan sesama jenis. Jika dengan yang berlainan jenis, harus diingatkan untuk tidak berkhalwat.

10. Mendidik etika berhias.
Berhias, jika tidak diatur secara islami, akan menjerumuskan seseorang pada perbuatan dosa. Berhias bererti memperindah atau mempercantik diri agar berpenampilan menawan. Tujuan pendidikan seks dalam kaitannya dengan etika berhias adalah agar berhias tidak untuk perbuatan maksiat.

11. Ihtilâm dan haid.
Ihtilâm adalah tanda anak laki-laki sudah mulai memasuki usia baligh. Adapun haid dialami oleh anak perempuan. Mengenalkan anak tentang ihtilâm dan haid tidak hanya sekadar untuk dapat memahami anak dari pendekatan fisiologis dan psikologis semata. Jika terjadi ihtilâm dan haid, Islam telah mengatur beberapa ketentuan yang berkaitan dengan masalah tersebut, antara lain kewajiban untuk melakukan mandi. Yang paling penting, harus ditekankan bahwa kini mereka telah menjadi Muslim dan Muslimah dewasa yang wajib terikat pada semua ketentuan syariah. Ertinya, mereka harus diarahkan menjadi manusia yang bertanggung jawab atas hidupnya sebagai hamba Allah yang taat.

Kamis, 25 November 2010

Jilbab antara ideologi dan fashion

                         
                                             JILBAB ANTARA IDEOLOGI DAN FASHION
     
       Pada zaman sekarang ,kita bisa dengan mudah menjumpai orang-orang di berbagai acara,baik formal maupun informal memakai jilbab yang beraneka model yang membuat pemakainya menjadi modis tidak terkesan jadul, pemakainya pun beragam, mulai dari orang tua,remaja,hingga anak-anak sem uanya kelihatan cantik tampa mengurangi sedikitpun kodratnya sebagai perempuan sempurna ciptaan tuhan.
          Perubahan cara pandang seperti ini sudah dirasakan lebih kurang sepuluh tahun yang lalu,dulu orang berjilbab dipandang sebelah mata oleh sebagian orang terkesan santriwati yang sedang mondok pada sebuah pesantren, kuno, terbelakang,tidak bisa mengikuti kemajuan teknologi bahkan sering menerima sapaan dari laki-laki yang ingin menggoda dengan ucapan ASSALAMU”ALAIKUM dengan nada miring yang tidak bisa dipertanggung jawabkan, berbeda dengan era sekarang pola pikir sudah berubah jilbab dipakai oleh orang-orang yang memegang posisi disebuah instansi seperti direktur,menejer.dokter dan orang golongan menengah keatas, begitu juga di dunia pendidikan yang memakai jilbab kebanyakan orang-orang yang berprestasi dibidangnya, bahkan didunia keartisan yang memakai jilbab adalah artis kalangan atas dan para senior dalam keartisannya, semua ini adalah bukti kebenaran ajaran agama yang tertuang dalam kitab suci Al’quran ,semakin tinggi ilmu seseorang semakin dekat dia dengan tuhannya dalam semua aktifitasnya.


Motif memakai jilbab.
Berdasarkan pengamatan sepintas lalu penulis,mengapa orang tertarik memakai jilbab ,mungkin karena ingin menjalankan ajaran Agamanya,atau karena tertarik melihat orang yang memakai jilbab kelihatan cantik dan modis,sudah banyak artis yang memakai jilbab ditayangkan dimedia cetak dan media Elektronik yang mengiklankan suato produknya,bahkan ada yang bermotifkan memakai jilbab adalah salah satu cara untuk menutup uban yang ada dikepalanya,karena factor umur yang selalu berjalan tampa berhenti sejenakpun, itu adalah sesuatu yang wajar dalam pola pikir generasi sekarang yang terpenting adalah berusaha menperbaiki niat dalam melakukan sesuatu karena niat adalah kunci ibadah.
Padahal diera modernisasi model jilbab itu berfariasi mempunyai corak dan kominasi yang dipadu padankan dengan suasana kapan jilbab itu akan dipakai,apakah acara akad Nikah atau menghadiri pernikahan, reception pernikahan, serta acara ulang tahun, semuanya bisa dibuat bertemakan ap a a? yang disukai saad ini .Sehingga seorang wanita tidak lagi hanya memakain jilbab pada saat hari besar agama saja,tetapi memakainya pada kegiatan sehari-hari.
pada saat yang tepat kita bisa bertanya kepada ABG, apakah memakai jilbab bisa menutupi kecantikan yang ia miliki, atau melindungi kecantikannya,atau bisa membuat ia menjadi anak yang percaya diri,atau minder dari pergaulannya dan lain sebagainya. Padahal cantik itu tidak hanya terlihat dari luar,tapi terpancar dari dalam dirinya (inerbioti), tanpa harus memamerkan auratnya seseorang
akan terlihat cantik dengan memakai busana yang tertutup rapi sesuai dengan situasi dan kondisi busana itu dikenakan,seperti pada acara ulang tahun boleh memakai pakaian muslim yang sedikit glamor sehingga terlihat lebih modis sesuai dengan stuasinya,kemudian dibarengi dengan akhlak yang terpuji, ramah,mudah senyum,dan menyapa dengan sopan kepada semua orang ,tidak membeda-bedakan teman serta bertutur kata yang manis yang mencerminkan carakter seseorang yang taat dalam menjalankan ajaran Agamanya.
       Kalau dilihat dari sudut pandang Agama,mayoritas penduduk Indonesia menganut agama islam. yang seharusnya mencanangkan gerakan memakai pakaian muslim secara utuh, tapi dalam kenyataannya kesadaran kaum Hawa untuk memakai jilbab masih rendah (kurang).Banyak faktor yang mempengaruhi seperti,adanya perusahhan yang melarang para pegawainya memakai jilbab pada saat beraktifitas di kantor.Masalah ini harus dipikirkan para wakil rakyat di negeri ini.Mari kita sama-sama memikirkan pola yang tepat dan menarik minat putri untuk memakai jilbab mulai dari kecil apabila kecil anak-anak sudah diperkenalkan dengan pakaian jilbab yang modis untuk menutup auratnya dengan aneka warna yang disenangi anak-anak yang bisa menimbulkan keinginan untuk memakai jilbab setelah mereka remaja dan dewasa nantinya, sehingga tertanam dihatinya bahwa jilbab adalah nyawaku yang selalu menyertai jiwaku akan selalu aku pakai kemanapun aku berkelana . ini bisa menepis anggapan orang yang memakai jilbab adalah sebuah ideology ektrim yang harus dimiliki setiap orang dan tidak ada lagi yang menganggap jilbab hanyalah sebuah busana fashion yang dipakai pada saat hari-hari besar agama.
( By : Fakhri hermansyah )